 |
| uncyclopedia.wikia |
Berdebat, perlukah
hingga tetes darah terakhir? Waduh, kayaknya enggak ya! Setidaknya bagi
saya. Adalah hak orang lain untuk berdebat hingga berbusa - busa atau
berjam - jam lamanya. Saya malas! Mendingan waktu yang ada dimanfaatkan
untuk bersepeda ke tepi sawah, jogging di taman atau membuat prakarya. Atau yang terbaik, …membuat puisi cinta. Sweet!
Pusing saya mendengar orang ribut - ribut! Tetangga sebelah rumah saya kerap bertengkar, pasutri. Yup,
anaknya sudah kuliah, tetapi sang istri sering berteriak seperti
terompet tahun baru dan suami membentak layaknya martil menggedor -
gedor kayu. Sungkanlah pasti! Dinding rumah tak seberapa tebal. Kami
masih maklum dan tidak mengurus, namun bagaimana dengan tetangga
lainnya? Apa tidak malu? Diproklamirkan ke publik, itu lho pasutri yang suka berantem dan ribut - ribut, sudah STW pula! Oalah!
Itu baru masalah
pasutri, masih ada sejuta perselisihan dan debat lainnya. Debat di
kantor, debat masalah agama, debat dengan orang - orang yang lebih tua
atau bahkan debat politik. Tinggal dipilih saja mau debat yang mana.
Suka - suka, aneka pilihan bagi yang berkenan debat. Saya biasanya duduk
manis dan menyimak. Kalo didebat saya suka bingung, karena malas tarik
urat. Kadang saya tahu, saya benar, tapi tetap saja saya malas berdebat.
Dan ibu saya sering menasihati, ’sing waras ngalah’, artinya yang berpikiran logis, silahkan mengalah. Jadi saya cuman memandang bingung berkata, ‘eerrr..errr’ dan silahkan menang. Horee!
Saya jarang berdebat
dengan orang yang tidak saya kenal dengan baik, justru saya lebih sering
berdebat dengan keluarga sendiri atau sahabat sendiri. Mengapa? Menurut
pengamatan saya, mengedukasi orang lain bukan tugas saya. Apalagi bagi
orang yang tidak ingin berubah, menjadi manusia dengan kombinasi IQ
(kecerdasan), SQ (kebijakan) dan EQ (kemampuan sosial) terbaik.
Mengedukasi lingkaran dalam seperti anggota keluarga, pertemanan,
termasuk diri sendiri, itu menjadi tugas saya. Thus, berdebat
dengan lingkaran dalam tidaklah terlalu berbeban, pun jika ternyata kita
yang salah dalam mengemukakan pendapat, memulihkan hubungan lebih
cepat. Orang lain? Mereka tidak mengenal kita sebaik lingkaran dalam
keluarga dan teman-teman kita, bisa jadi murka besar!
Sesuatu yang terkait
emosi paling mudah dikontrol oleh diri sendiri. Kita, seharusnya dapat
mengontrol emosi kita. Tetapi sudah pasti, kita tidak dapat mengontrol
emosi orang lain. Nah, berdebat atau silang pendapat ujung -
ujungnya selalu menjurus pada kalah - menang. Kalau pertandingan tinju,
siapa KO itu kalah. Kalo debat, adu kata, masakan harus berakhir adu
jotos? Kayak manusia bar-bar saja. Jika terpaksa, pilih perdebatan Anda,
setidaknya yang menurut Anda layak dipertarungkan. Dan jangan lupa,
dengan siapa Anda berdebat, Anda harus tahu!
Tipikal Kepribadian Manusia
Berikut ini adalah
tipe - tipe kepribadian manusia menurut Hippocrates (460-370 SM). Dengan
membaca latar belakang, watak dan barangkali tingkat pendidikan, Anda
dapat mengenali lawan debat Anda dengan baik sehingga Anda mengerti
bahwa Anda berada di medan pertarungan yang tepat.
1. Sanguinis
Si populer. Sangat
mengumbar emosi, mudah gaul. Tidak suka berpikir yang rumit dan ceplas -
ceplos dalam berucap. Orang bertipe sanguinis aktif dalam berbagai
kegiatan dan menyenangkan. Hal yang kurang pas adalah mereka mudah ikut
arus dan tidak konsisten. Kemana emosi dan perasaan membawanya gembira,
kesitu ia akan mengkuti.
2. Melankolis
Tertutup, hati - hati
dan punya cita rasa seni. Memperhatikan detail dan juga cerdas. Orang -
orang bertipe ini tersembunyi di balik layar. Jarang menonjolkan diri,
namun disukai oleh orang lain karena kesabaran dan loyalitasnya. Sayang,
orang yang melankolis mudah bersedih dan larut dengan perasaan.
Demikian pula mudah berpikir negatif dan mendendam.
3. Koleris
Adalah si ambisius
yang pandai berstrategi. Fokusnya pada hasil dan bukan pada relasi
dengan manusia lain. Ini mengakibatkan perasaannya tumpul dan tidak
terlalu perduli dengan orang lain. Baginya yang terpenting adalah
bergerak cepat dan sigap lalu mendominasi atau memimpin orang lain.
Sukses harus diraih oleh si koleris. Tidak bisa santai, sulit mengaku
salah apalagi minta maaf.
4. Phlegmatis
Tipe orang yang
menyenangkan. Humoris, sabar, penyuka damai dan tidak mudah melibatkan
diri dalam aneka keributan. Sifatnya yang baik juga mudah membuatnya
mengerti perasaan dan dapat bersimpati pada orang lain. Kelemahan tipe
orang seperti ini adalah lamban dan suka menunda. Terkesan kurang aktif.
Ini adalah bagian dari kontrol dirinya.
 |
| wikipedia |
Dalam lingkaran
pertemanan, saya bersahabat dengan tiga gadis lain sejak masa sekolah
menengah pertama. Sekian lamanya waktu, kami berempat setelah dewasa
ternyata sangat mewakili empat tipikal kepribadian tersebut diatas.
Berbasiskan pemahaman sifat antara kami, yang memang kenal tidak sehari -
dua hari, dalam banyak hal kami bertikai, kami selalu mampu
menyelesaikannya. Mengapa? Karena sangat ‘hafal’ dengan watak masing -
masing. Tentu saja ada kombinasi sifat yang terjadi dari empat tipe
kepribadian tersebut, namun biasanya salah satu kepribadian akan paling
menguasai dalam diri seseorang. Anda tipikal yang mana? Lawan
debat Anda, siapa dia? Seperti apa wataknya?
Jika Harus Terlibat Perdebatan
Tentu ada situasi
dimana mau tak mau kita harus berdebat. Mengapa? Karena kita sudah
menetapkan dan memilih perdebatan kita. Dalam hal ini alasannya bisa
jadi sangat personal, bisa juga karena atas tekanan hukum atau berada
dalam situasi lain yang tidak dapat menolak perselisihan atau
perdebatan.
Dalam forum resmi
perdebatan seharusnya tampil elegan, dimana publik secara langsung akan
mampu menilai dengan laku, mimik, logika dan argumen yang dilemparkan
oleh masing - masing pihak. Menurut saya, profesi guru, dosen, pengacara
dan pemimpin harus mampu melakukan debat elegan. Dan profesi - profesi
lain juga seharusnya mampu berdebat sejauh berada dalam bidang
profesionalisme yang sama. Ya maaf saja, kalau dokter jangan berdebat
dengan tukang beca!
Ada beberapa perilaku dalam perdebatan yang patut dicermati.
1. Sikap Lembut dan Tenang
Tidak
perlu berteriak dalam berdebat. Dengan asumsi tidak ada yang tuli, tidak
perlu ngotot. Gunakan cara yang persuasif bukan agresif. Perdebatan
seharusnya dimenangkan oleh argumen yang paling tepat dan masuk akal.
2. Tempatkan Lawan Bicara Bersisian Pada Posisi Anda
Berkatalah
dengan baik dan bijak. Posisikan lawan Anda bersisian dengan Anda.
Katakan bahwa Anda yakin mereka akan setuju dengan hal – hal yang
sifatnya mendasar terlebih dahulu. Jangan tempatkan diri Anda pada
posisi berhadapan dan siap serang.
3. Jangan Menyerang
Langsung
mengatakan “Anda salah besar!” atau “Anda Bodoh!” Tentunya akan sangat
menjengkelkan bagi orang yang mendengar hal tersebut. Sebaliknya Anda
harus mampu mengedepankan logika dan argumen yang masuk akal secara
jelas dan berurutan, bukan langsung menyerang. Kalah – menang urusan
nanti, setidaknya cara berbicara Anda akan menunjukkan siapa Anda.
Keseluruhan dari IQ, EQ dan SQ Anda.
4. Jangan Kasar
Jangan
sekali – kali berkata kasar sekalipun lawan bicara Anda demikian,
memanggil Anda dengan julukan yang tak pantas. Disini fungsi kontrol
emosi Anda harus dijalankan. Semakin kasar lawan bicara Anda, semakin
nampak bahwa sesungguhnya ia kehilangan fakta untuk mendebat Anda lebih
lanjut, Anda boleh tersenyum dan menahan diri.
5. Samakan Persepsi Mendasar
Jika
persepsi mendasar saja sudah tidak sama, untuk apa berdebat tentang hal
yang lebih sempit atau menjurus sifatnya? Ini seperti orang Cina
bercakap dengan bahasa mandarin dan orang Arab menjawab dalam bahasa
Arab. Jika, orang Cina dan Arab itu masing – masing dapat bercakap dalam
bahasa Inggris walau sangat minim, masih ada titik terang untuk
berlanjut! “Me – You – Talk.”
6. Konsisten Pada Topik Debat
Sudah
lumrah dalam perdebatan yang kian memanas, salah satu atau kedua belah
pihak kemudian saling mengucapkan hal – hal yang diluar topik utama.
Sekalipun ingin meledak marah ketika lawan debat mengucapkan “Gue tau
loe anak siapa!” acuhkan saja, fokus kembali pada inti perdebatan yang
beretika.
7. Berikan Pertanyaan
Dalam
perdebatan tanyakan pada lawan debat Anda. Hal – hal yang sifatnya
mengarah pada kebenaran dan hal – hal yang logis, mendukung argumen
Anda. Bisa dimulai dengan pertanyaan, “Dapatkah Anda contohkan?” Atau
“Apakah menurut Anda hal tersebut masuk diakal?” Jika lawan bicara Anda
mulai kesal karena kebenaran mulai terungkap, artinya Anda juga sudah
mendekati kemenangan.
8. Berdiam Dirilah
Jika
setelah mengemukakan argumen berdasarkan fakta yang kuat dan lawan
bicara Anda masih saja tak mau mengalah, bahkan terus membombardir Anda
dengan segala argumennya sendiri, berdiam dirilah! Banyak perdebatan
yang dimenangkan justru tanpa berdebat sama sekali.
9. Kenali Fakta
Kenali
fakta dengan baik. Jangan memperdebatkan sesuatu yang tak jelas apalagi
ngawur, faktanya harus ada. Berdebatlah jika Anda sungguh tahu medan
permainan dan fakta kebenaran.
10. Akui Jika Anda dikalahkan
Jika
semua fakta yang Anda kumpulkan relevan, seharusnya Anda menang. Namun
ada kalanya lawan bicara Anda mampu mengemukakan fakta yang lebih baik
dan bahkan menyudutkan Anda. Akui! Di dalam menerima kekalahan
perdebatan, Anda harus menunjukkan kebesaran hati Anda. Mengalah demi
kebenaran, jangan bersikap konyol kekanakan demi kemenangan. Orang lain
akan angkat topi karena Anda bijak dan bukannya ‘ngeyel’.
Mengalah Untuk Menang
Mengapa Anda boleh
mengalah untuk menang? Kemenangan bukanlah segalanya. Ada hal - hal yang
lebih baik yaitu melihat kenyataan, menemukan kebenaran dan menjaga
kedamaian dalam hati Anda. Emosi dan kebencian tidak seharusnya merusak
hubungan baik hanya karena masalah perbedaan pendapat. Berikut ini hal -
hal yang dapat menjadi pertimbangan mengapa kita boleh mengalah untuk
menang.
Tidak ada Kemenangan yang Hakiki
Dalam debat yang
paling resmi sekalipun, ketika perdebatan usai pihak yang kecewa bisa
jadi akan terus ‘berdengung’ dibelakang layar, mengungkapkan
ketidakpuasan. Mengemukakan temuan - temuan lain mengapa ‘jagoannya’
kalah. Mereka tetap tidak mau mengakui bahwa Anda menang.
Berdebat Menuai Konflik
Dalam suasana
persahabatan, debat terasa indah dan intim. Namun jarang ada perdebatan
semacam ini khususnya diantara orang - orang yang tidak saling mengenal
dengan baik. Yang terjadi justru menuai masalah berikutnya dan kita lalu
menyesal karena telah mengucap kata - kata yang sebenarnya tak pantas.
Secara Legal Perselisihan Berakhir dalam Persidangan
Dalam masalah yang
berlarut, perdebatan tak lagi dibutuhkan. Perselisihan kemudian masuk ke
ranah hukum, dimana pengacara yang terlatih dan dewan juri akan
memberikan keputusannya. Padahal mereka tidak terlibat langsung di dalam
perselisihan. Jadi kenapa harus lelah berdebat jika pada akhirnya dapat
berakhir demikian?
Perasaan Tak Dapat Didikte
Perasaan Anda tidak
seharusnya didikte oleh orang lain. Seringkali orang akan menyerang
perasaan Anda. Dengan mengatakan bahwa Anda mengada - ada, tidak
rasional atau sensitif. Biarkan saja. Perasaan Anda sifatnya milik Anda
pribadi, tidak terbantahkan dan tak dapat didikte. Jika Anda yakin dan
itu adalah suara dari hati nurani Anda, acuhkan saja serangan orang lain
tersebut.
Respek Tak Dapat Dipaksakan
Anda mengerti benar
hingga dimana batas - batas Anda telah dilanggar oleh orang lain. Jika
hal itu terjadi, Anda harus menetapkan dengan tegas mana yang tidak
dapat ditoleransi oleh Anda. Yang tidak diperlukan adalah “menjelaskan”
kepada mereka “mengapa”, karena kebutuhan Anda dan mereka tidak sama,
tak dapat dipaksakan satu sama lain. Anda tidak butuh pendapat mereka
dan sebaliknya mereka juga tidak rugi apapun hanya karena Anda tidak
sependapat.
Berhentilah Memaksakan Pendapat
Berdebat itu intinya
adalah memaksakan pendapat Anda demi mengontrol orang lain. Artinya Anda
memaksa mereka berpikir, merasa dan berperilaku sesuai dengan yang Anda
inginkan. Bukankah Anda sendiri akan terganggu, jika ada orang yang
berlaku demikian pada Anda??
Berdiskusi secara
sopan dan saling tukar opini dengan bersahabat rasanya lebih tepat
dilakukan ketimbang debat kusir semata. Hidup seharusnya lebih bermakna
untuk menyebarkan kebaikan, menjalin persahabatan dan menolong orang
lain. Siapapun mereka! Hidup ini tidak abadi, sifatnya sementara, apa
masih harus dirusak dengan benci dan angkara murka hanya karena adu kata
- kata? Anda tidak harus selalu hadir dalam setiap perdebatan yang
mengundang. Macan yang diam tetap ditakuti, sebaliknya anjing yang
kebanyakan menggonggong akan dilempar!
 |
| izquotes |
Disarikan dari berbagai sumber oleh J.W. - masih jauh dari sempurna.